Home Andy Utama Dan Arista Montana Pengamatan di Megamendung Catat Tiga Jenis Raptor Migran, Pemantauan Tahunan Diharapkan Petakan...

Pengamatan di Megamendung Catat Tiga Jenis Raptor Migran, Pemantauan Tahunan Diharapkan Petakan Pergerakannya

12
0
Pengamatan di Megamendung menghasilkan 915 catatan raptor migran dari tiga jenis. Pemantauan tahunan diharapkan membantu pemetaan pergerakan burung.

Sumber: koran-gala.id

BOGOR — Elang-alap Cina, sikep-madu Asia, dan elang-alap Nipon masuk dalam catatan pengamatan burung pemangsa migran di Megamendung, Kabupaten Bogor, pada 16–18 Oktober 2026. Selama tiga hari, peserta menghimpun 915 catatan pengamatan dari ketiga jenis tersebut.

Hasil itu terdiri atas 828 pengamatan elang-alap Cina, 76 sikep-madu Asia, serta 11 elang-alap Nipon. Jumlahnya merupakan akumulasi catatan selama kegiatan dan tidak menunjukkan jumlah pasti individu burung yang berbeda.

Direktur Raptor Indonesia, Zaini Rachman, berharap pemantauan berlangsung setiap tahun agar pergerakan burung dapat dipetakan secara berkelanjutan. Dokumentasi fotografer, pengamat burung, dan masyarakat juga dinilai dapat memperkaya informasi migrasi.

Pengamatan Melibatkan Peserta Beragam Profesi

Yayasan Paseban bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia (RAIN) menggelar Megamendung Bird Migration Watch 2026 dengan melibatkan peneliti, pekerja perbankan, birokrat, guru, dan komunitas pengamat burung.

Selain turun ke lapangan, peserta mengikuti pembekalan tentang migrasi, identifikasi burung pemangsa, serta pencatatan pengamatan. Tim juga mendata 54 jenis burung lokal dan berbagai jenis amfibi maupun reptil.

Tiga burung pemangsa penetap turut dijumpai, yakni elang-ular bido, elang hitam, dan elang Jawa. Catatan tersebut mencakup satwa yang menghuni kawasan maupun burung yang memanfaatkannya sebagai persinggahan.

Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, berharap kegiatan itu menghasilkan pengetahuan bermanfaat dan publikasi ilmiah. Menurut dia, menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama.

Tempat Singgah Sebelum Meneruskan Perjalanan

Keberadaan burung migran di Megamendung berkaitan dengan ketersediaan hutan untuk beristirahat dan mencari makan. Hutan Paseban menyediakan habitat persinggahan yang perlu dipertahankan agar burung dapat melanjutkan perjalanan.

Direktur Eksekutif Burung Indonesia, Dian Agista, mengatakan kelancaran migrasi merupakan pertanda kesehatan ekosistem. Ia menilai hutan di area Paseban yang terjaga mempunyai peran penting dalam menyediakan tempat istirahat aman bagi raptor.

Direktur Konservasi Yayasan Paseban, Ady Kristanto, menekankan bahwa melindungi burung yang singgah juga berarti mempertahankan hutan tempatnya bernaung. Data jenis satwa dan penggunaan habitat, menurut dia, membantu menentukan langkah konservasi yang sesuai.

Ady mengajak masyarakat berperan menjaga tutupan hutan dan keanekaragaman hayati. Bentuk keterlibatannya dapat dimulai dari mengenali satwa di lingkungan sekitar serta menghargai burung yang hidup di habitat alami.

Perlindungan Diusulkan melalui Surat Edaran dan Peraturan Desa

Yayasan Paseban menyatakan telah mengirim surat kepada Gubernur Jawa Barat untuk mengusulkan penerbitan surat edaran larangan berburu burung dan perlindungan keanekaragaman hayati. Upaya kebijakan tersebut berjalan bersama kegiatan pemantauan satwa.

Di tingkat desa, yayasan mendorong penyusunan peraturan yang melibatkan pemerintah desa, aktivis lingkungan, dan warga. Langkah tersebut diharapkan memperkuat perlindungan habitat serta satwa di tingkat lokal.

Ketua Umum Yayasan Paseban, Wahdi Azmi, mengingatkan bahwa migrasi memperlihatkan keterhubungan ekosistem melintasi batas negara. Menurut dia, menyusutnya habitat persinggahan akan menghadirkan ancaman bagi burung selama menempuh perjalanan panjang.