Pandangan itu menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam Paseban Foundation Annual Dinner 2026. Kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus memperingati dua tahun perjalanan Paseban Foundation.
Acara mengusung tema Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve.
Sejumlah pihak hadir, antara lain perwakilan Kementerian Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kedutaan Besar Inggris, FAO, UNESCO, UNDP, DPR RI, akademisi, organisasi konservasi, dunia usaha, masyarakat sipil, filantropi hingga generasi muda.
Jadi Penghubung Kerja Konservasi
Andy mengatakan Paseban Foundation dibangun sebagai wadah agar kerja konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Lembaga itu tidak ingin menempatkan diri sebagai pusat dari seluruh kegiatan konservasi. Paseban Foundation justru berupaya menjadi penghubung berbagai pihak yang memiliki kewenangan, sumber daya dan keahlian berbeda.
Tujuannya satu, yakni menjaga bentang alam yang sama.
Pendekatan tersebut juga memperkuat peran Paseban Foundation sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pengalaman konservasi di lapangan dengan produksi dan penyebarluasan pengetahuan.
Konsep ini sejalan dengan upaya membangun konservasi Megamendung lintas generasi, sehingga pekerjaan menjaga ekosistem tidak berhenti ketika sebuah program selesai atau ketika terjadi pergantian generasi.
Sudah Tanam 21.831 Pohon
Kerja konservasi Paseban Foundation berangkat dari kegiatan langsung di lapangan.
Dalam konservasi in-situ, lembaga tersebut melakukan perlindungan habitat, pemulihan ekosistem, survei biodiversitas serta penanaman lebih dari 21.831 pohon dari berbagai jenis lokal.
Program penanaman 21.831 pohon untuk menjaga biodiversitas Megamendung menjadi salah satu bagian dari strategi pemulihan bentang alam yang dilakukan secara bertahap.
Upaya Paseban Foundation menanam 21.831 pohon di Megamendung juga diarahkan untuk memperkuat habitat alami serta mempertahankan fungsi ekologis kawasan.
Selain konservasi in-situ, Paseban Foundation menjalankan konservasi ex-situ melalui penangkaran nonkomersial burung dan mamalia.
Program tersebut telah menghasilkan tiga anak rusa.
Lima Primata Jawa Terpantau
Paseban Foundation juga melakukan survei biodiversitas dengan observasi langsung dan kamera jebak atau camera trap.
Executive Director Paseban Foundation, Wahdi Azmi, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan lima spesies primata Jawa masih ditemukan dalam satu bentang alam yang relatif kecil di Megamendung.
Menurut Wahdi, temuan tersebut penting mengingat tingginya tekanan terhadap habitat alami di Pulau Jawa.
“Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, sebuah lanskap yang sangat didominasi manusia. Namun, di Megamendung, kelima spesies primata yang masih tersisa di Pulau Jawa telah kami konfirmasi keberadaannya,” ujar Wahdi.
Megamendung juga menjadi habitat berbagai satwa dan flora pegunungan tropis.
Di antara satwa penting yang terpantau berada di bentang alam tersebut adalah Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa.
Data Lapangan Tak Cuma Disimpan
Paseban Foundation tidak ingin hasil kerja lapangan berakhir menjadi data yang tersimpan secara internal.
Temuan dari survei, penelitian dan kegiatan konservasi diolah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk pendidikan, penelitian, advokasi, peningkatan kapasitas, komunikasi publik hingga pengambilan keputusan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Paseban Foundation sebagai knowledge institution.
Praktik konservasi di lapangan kemudian dihubungkan dengan produksi dan penyebaran pengetahuan kepada publik.
Komitmen itu ditandai dengan peluncuran buku Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban dan Kepemimpinan Bentang Alam, serta pemutaran perdana film dokumenter The Silent Resilience.
Nezar Patria Soroti Pentingnya Penyebaran Data
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi konsistensi kerja konservasi Paseban Foundation.
Nezar menilai data dari lapangan tidak cukup hanya dikumpulkan. Menurutnya, informasi tersebut perlu diolah dan disebarluaskan agar menjadi bagian dari percakapan publik.
Nezar juga menilai Paseban Foundation berpotensi menjadi hub yang mempertemukan berbagai inisiatif dan kekuatan untuk mendukung pelestarian Cagar Biosfer Cibodas.
Generasi Muda Diminta Ambil Peran
Regenerasi juga menjadi perhatian dalam upaya konservasi di Megamendung.
Mewakili Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia mengatakan generasi muda perlu dilibatkan sejak awal agar pekerjaan konservasi dapat terus berjalan.
“Yang sudah senior ini sebentar lagi akan purna tugas. Karena itu, dibutuhkan generasi muda untuk mengambil alih tugas dan melanjutkan pekerjaan ini untuk masa depan,” ujarnya.
Bentang Alam Tak Kenal Batas Administrasi
Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, mengatakan kolaborasi menjadi penting karena alam tidak bekerja berdasarkan batas administratif.
Hutan, air, satwa liar dan manusia saling terhubung dalam satu sistem. Karena itu, pengelolaan sebuah bentang alam membutuhkan kemampuan menyatukan banyak kepentingan.
“Kepemimpinan bentang alam bukanlah tentang memimpin satu institusi, melainkan tentang menyatukan dan mengolaborasikan berbagai pihak untuk menjaga satu ekosistem yang sama,” ujar Wiratno.
Konservasi Harus Punya Penerus
Paseban Foundation menempatkan perlindungan Megamendung sebagai pekerjaan jangka panjang.
Penanaman pohon, pemantauan satwa, restorasi habitat dan penelitian merupakan bagian dari proses tersebut. Namun, pekerjaan konservasi dinilai tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan satu program.
Dibutuhkan kelembagaan, pengetahuan, kolaborasi dan regenerasi agar kegiatan tersebut terus berjalan.
Dengan pendekatan itu, kerja konservasi diharapkan tidak berhenti pada satu program, satu figur atau satu generasi.
Paseban Foundation ingin memastikan pengalaman yang diperoleh hari ini dapat diteruskan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya dalam menjaga biodiversitas Megamendung dan Cagar Biosfer Cibodas.









