Home Andy Utama Dan Arista Montana Pengamatan Raptor di Megamendung Catat 915 Temuan, Hutan Paseban Menjadi Habitat Persinggahan...

Pengamatan Raptor di Megamendung Catat 915 Temuan, Hutan Paseban Menjadi Habitat Persinggahan Migrasi

22
0
Yayasan Paseban Dorong Larangan Berburu Burung di Jawa Barat (31)

BOGOR — Elang-alap Cina mendominasi catatan pengamatan raptor dalam Megamendung Bird Migration Watch 2026. Dari total 915 pengamatan selama 16–18 Oktober 2026, sebanyak 828 merupakan pengamatan jenis tersebut.

Dua jenis lain yang tercatat ialah sikep-madu Asia sebanyak 76 pengamatan dan elang-alap Nipon sebanyak 11 pengamatan. Angka itu menunjukkan jumlah pengamatan selama kegiatan, bukan jumlah individu burung yang telah dipastikan berbeda.

Kegiatan di Megamendung, Kabupaten Bogor, tersebut diselenggarakan Yayasan Paseban bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia (RAIN). Data yang terkumpul diharapkan menjadi bahan perencanaan konservasi dan pemahaman mengenai aktivitas burung migran di Megamendung.

Tempat Bermalam Sebelum Melanjutkan Migrasi

Direktur Konservasi Yayasan Paseban, Ady Kristanto, menerangkan bahwa Hutan Paseban digunakan burung migran untuk beristirahat pada malam hari. Burung kemudian melanjutkan perjalanan migrasinya.

“Jadi sangat penting jika kita punya data burung apa saja yang singgah di sini ketika malam hari, kemudian data itu bisa menjadi acuan untuk aksi konservasi ke depannya,” ujar Ady.

Ia menaruh perhatian pada kondisi habitat yang masih bertahan di tengah perubahan pemanfaatan lahan sekitar menjadi permukiman dan vila. Ketua Burung Indonesia, Dian Agista, juga mengingatkan perlunya hutan dan ekosistem yang menyediakan tempat istirahat serta makanan bagi burung selama bermigrasi.

Selain raptor migran, pengamat mencatat 47 jenis burung lokal dan berbagai amfibi serta reptil. Elang-ular bido (Spilornis cheela) dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi) termasuk raptor penghuni kawasan yang teramati.

Perhatian pada habitat dalam kegiatan Megamendung Bird Migration Watch 2026 berkaitan dengan upaya pelestarian burung endemik di kawasan Megamendung.

Pengamatan Berkala untuk Memetakan Pergerakan Burung

Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rakhman, menjelaskan bahwa raptor umumnya terbang bermigrasi pada siang hari dengan bantuan arus udara panas atau thermal. Ia mengharapkan pengamatan rutin agar jalur pergerakannya dapat dipetakan dengan lebih baik.

“Saya berharap ini diselenggarakan setiap tahun, jadi kita dapat memetakan pergerakan mereka itu ke mana,” ujar Zaini.

Peserta kegiatan juga mengikuti edukasi dan diskusi mengenai migrasi burung, jalur migrasi global, serta identifikasi raptor. Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Paseban menandatangani kerja sama dengan Burung Indonesia dan Cikananga Wildlife Center.

Di tingkat kebijakan, yayasan telah mengirim surat kepada Gubernur Jawa Barat untuk mengusulkan surat edaran larangan perburuan burung. Penyusunan peraturan desa turut didorong guna memperkuat perlindungan satwa dan habitat.

Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menyoroti Megamendung sebagai bagian dari zona transisi Cagar Biosfer Cibodas. Mantan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem periode 2017–2022 itu menekankan restorasi hutan, khususnya ekosistem pegunungan di atas ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.