Home Andy Utama Dan Arista Montana Ribuan Pohon dan Satwa Dilindungi, Megamendung Tumbuh Jadi Simbol Konservasi Andy Utama

Ribuan Pohon dan Satwa Dilindungi, Megamendung Tumbuh Jadi Simbol Konservasi Andy Utama

14
0
Andy Utama Kembangkan Megamendung sebagai Ruang Hidup Baru bagi Satwa Liar

Bogor – Dua ekor Elang Jawa bernama Agni dan Beta dilepasliarkan di Lanskap Megamendung, Kabupaten Bogor. Pelepasliaran satwa dilindungi itu menjadi salah satu penanda menguatnya upaya pemulihan ekosistem hulu Bogor yang digerakkan Yayasan Paseban.

Kawasan Megamendung kini tidak hanya dipandang sebagai ruang hijau penyangga Puncak. Di wilayah ini, konservasi dikembangkan melalui penanaman ribuan pohon, perlindungan satwa, penguatan fasilitas penangkaran, hingga pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

Informasi mengenai pengembangan Megamendung sebagai kawasan konservasi ini sebelumnya diberitakan iNewsBandungRaya.id, Selasa, 9 Juni 2026. Dalam laporan itu disebutkan, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem meresmikan Lembah Aviary Paseban, Penangkaran Rusa Timor, serta melepasliarkan dua ekor Elang Jawa di Megamendung.

Satwa Dilindungi Kembali ke Habitat

Peresmian tersebut dilakukan Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang diwakili Direktur Jenderal KSDAE, Prof Dr Setyawan Pudyatmoko. Agenda ini menempatkan Megamendung sebagai salah satu bentang alam penting bagi konservasi satwa dan pemulihan habitat di Jawa Barat.

Elang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa. Karena itu, pelepasliaran Agni dan Beta tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi bagian dari upaya menjaga kembali ruang hidup satwa liar di kawasan hulu.

Selain pelepasliaran Elang Jawa, penguatan fasilitas konservasi juga dilakukan melalui Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor Megamendung. Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung perlindungan satwa, edukasi lingkungan, dan penguatan kesadaran publik tentang pentingnya habitat yang sehat.

Pengembangan kawasan konservasi di Megamendung dilakukan oleh Yayasan Paseban melalui pendekatan yang menggabungkan pelestarian keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, pertanian organik, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Ribuan Pohon Jadi Fondasi Konservasi

Upaya konservasi di Megamendung juga ditopang penanaman pohon secara berkelanjutan. Sejak Hari Konservasi Alam Nasional atau HKAN 2024, Yayasan Paseban bersama para mitra telah menanam 21.831 pohon dari lebih 200 jenis di kawasan tersebut.

Pohon-pohon itu tidak hanya ditanam, tetapi juga dipetakan dan diberi penanda. Pendataan ini penting agar proses perawatan dan pemantauan bisa dilakukan secara terukur.

Di kawasan hulu, pohon memiliki fungsi yang sangat penting. Vegetasi membantu menjaga sumber air, memperkuat struktur tanah, menyediakan pakan, serta menciptakan ruang hidup bagi satwa liar.

Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, menyebut gerakan konservasi ini berangkat dari praktik pertanian organik yang telah dirintis sekitar 16 tahun lalu. Dari pertanian organik, gagasan itu berkembang menjadi agenda pemulihan ekosistem yang lebih luas.

Andy sebelumnya mengatakan, Megamendung diharapkan dapat dikembalikan sedekat mungkin dengan kondisi ekologisnya seperti dahulu. Upaya itu dilakukan dengan memperkuat habitat satwa liar, menjaga sumber air, dan mewariskan bentang alam yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Konservasi Berbasis Kolaborasi

Dirjen KSDAE Prof Dr Setyawan Pudyatmoko mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Yayasan Paseban bersama pemerintah daerah, Perum Perhutani, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi lintas pihak dinilai penting karena konservasi tidak bisa dikerjakan oleh satu lembaga saja.

Model konservasi di Megamendung menggabungkan pendekatan in-situ dan ex-situ. Konservasi in-situ dilakukan dengan menjaga satwa di habitat alaminya, sedangkan konservasi ex-situ dilakukan melalui fasilitas khusus seperti aviary dan penangkaran.

Megamendung juga memiliki posisi ekologis penting karena terhubung dengan bentang alam Cagar Biosfer Cibodas yang diakui UNESCO. Kawasan ini menjadi ruang hidup berbagai satwa, antara lain Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, serta beragam jenis burung hutan.

Dengan pelepasliaran Elang Jawa Agni dan Beta, penanaman 21.831 pohon dari lebih 200 jenis, serta penguatan fasilitas konservasi satwa, Megamendung kini bergerak sebagai ruang pemulihan ekosistem hulu. Di kawasan ini, konservasi tidak berhenti pada penanaman pohon, tetapi menyentuh habitat, air, satwa, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Sumber: Ribuan Pohon dan Satwa Dilindungi, Megamendung Jadi Model Konservasi Andy Utama