Bogor — Kabut tipis masih menggantung di atas lahan Arista Montana saat musim panen padi huma usai. Suasana yang tenang itu menandai berakhirnya masa tanam, tetapi bukan akhir dari perjalanan pangan yang dihasilkan dari tanah tersebut.
Bagi Arista Montana, panen tidak berhenti pada proses memetik hasil. Ada tahapan lain yang dianggap sama pentingnya, yakni menjaga agar hasil panen tetap menjadi sumber kehidupan dalam jangka panjang.
Pemilik Arista Montana, Andy Utama, mengatakan padi huma tidak diperlakukan sekadar sebagai hasil pertanian yang langsung dijual atau dikonsumsi. Menurut dia, hasil panen harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem hidup yang dijaga dengan kesadaran dan tanggung jawab.
“Panen telah usai, namun perjalanan padi huma belum berakhir,” ujar Andy Utama.
Selama lebih dari dua dekade, Arista Montana dikenal menaruh perhatian pada pertanian organik dan konservasi alam. Dalam praktiknya, padi huma dibudidayakan dengan mengikuti ritme alam, tanpa eksploitasi berlebihan terhadap tanah, sehingga proses tanam hingga panen dijalankan dengan menjaga keseimbangan lingkungan.
Setelah dipanen, padi huma tidak langsung dihabiskan. Sebagian hasil panen justru dibawa ke tempat penyimpanan. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk kesadaran bahwa pangan tidak hanya diproduksi untuk hari ini, tetapi juga harus dijaga untuk masa mendatang.
“Butir-butir padi ini tidak langsung dihabiskan. Dia dibawa menuju rumah, tempat kehidupan dijaga,” kata Andy.
Sistem Leuit Menjadi Rujukan
Pendekatan yang diterapkan Arista Montana merujuk pada kearifan lokal masyarakat Baduy melalui sistem leuit. Dalam tradisi masyarakat adat itu, leuit merupakan lumbung padi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga menjadi fondasi ketahanan pangan komunitas.
Dalam sistem tersebut, padi disimpan dalam bentuk gabah sebagai cadangan jangka panjang. Tidak semua hasil panen dilepas ke pasar. Sebagian disisihkan secara disiplin agar ketersediaan pangan tetap terjaga ketika masyarakat menghadapi masa sulit, seperti gagal panen atau terganggunya distribusi.
Prinsip utama yang dijalankan adalah menyimpan secukupnya. Artinya, cadangan pangan dikelola bukan untuk akumulasi tanpa batas, melainkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan kebutuhan masa depan.
Dari cara pandang itu, ketahanan pangan tidak hanya diukur dari besarnya hasil panen, tetapi juga dari kemampuan mengelola cadangan secara bijak. Sistem leuit menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dibangun dari kedisiplinan menjaga stok pangan di tingkat komunitas.
Sejumlah penelitian akademik juga menunjukkan relevansi pendekatan tersebut. Jan Permata dalam tulisan di Jurnal Bina tahun 2025 menjelaskan bahwa keberadaan leuit memungkinkan masyarakat menjaga ketersediaan pangan lintas musim sekaligus menekan kerentanan saat terjadi krisis.
Temuan itu diperkuat oleh tesis Ahmad Fauzi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam penelitiannya, masyarakat Baduy disebut menerapkan aturan ketat dalam pengelolaan pangan, termasuk kewajiban menyimpan sebagian hasil panen dan membatasi konsumsi agar cadangan tidak habis dalam waktu singkat.
Dari sisi teknis, sistem leuit juga dinilai efektif. Penelitian Mirajiani dan Widiati dalam Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat tahun 2022 mencatat bahwa padi yang disimpan dalam leuit dapat bertahan hingga bertahun-tahun tanpa kehilangan kualitas konsumsi.
Kondisi itu menjadikan leuit sebagai model cadangan pangan jangka panjang yang stabil dan minim risiko. Di saat sistem pangan modern kerap terganggu oleh distribusi dan fluktuasi harga, pola semacam ini justru menunjukkan daya tahan yang kuat.
Sementara itu, Hakiki dalam tulisan berjudul Leuit Baduy: Simbol Estetika, Ketahanan Pangan, dan Religi yang terbit pada 2025 menilai leuit tidak hanya memiliki fungsi teknis, tetapi juga memuat nilai ekonomi, budaya, dan spiritual yang saling terhubung dalam kehidupan masyarakat.
Kearifan Lokal Relevan bagi Pertanian Modern
Arista Montana melihat prinsip-prinsip dalam sistem leuit tetap relevan untuk diterapkan di tengah tantangan pertanian modern. Ketika dunia dihadapkan pada perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian pangan global, pendekatan berbasis cadangan komunitas dinilai memberi fondasi yang lebih kokoh.
Pendekatan ini berbeda dari pola dominan yang lebih menekankan peningkatan produksi dalam skala besar. Model berbasis kearifan Baduy justru menunjukkan bahwa ketahanan pangan lokal dapat dibangun dari bawah, yakni dari komunitas yang memiliki kendali atas hasil produksi dan cadangan mereka sendiri.
Di sisi lain, pola tersebut juga menjadi koreksi terhadap paradigma pangan yang terlalu berorientasi pada pasar. Ketika distribusi terganggu atau harga melonjak, komunitas yang mempunyai cadangan sendiri cenderung lebih siap menghadapi tekanan.
Andy menegaskan, menyimpan hasil panen bukan sekadar menahan untuk tidak digunakan. Bagi dia, langkah itu merupakan bagian dari upaya merawat kehidupan agar tetap berlanjut.
“Menyimpan bukan sekadar menahan, melainkan merawat kehidupan,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Arista Montana menunjukkan bahwa solusi ketahanan pangan tidak selalu harus bertumpu pada teknologi tinggi atau intervensi berskala besar. Pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu justru dapat menjadi dasar penting bagi sistem pangan yang berkelanjutan, selama mampu diterapkan sesuai kebutuhan masa kini.
Praktik ketahanan pangan lokal berbasis kearifan Baduy yang dijalankan Arista Montana memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi juga oleh cara hasil tersebut dijaga.
Komitmen itu berjalan seiring dengan perhatian pada lingkungan yang lebih luas, termasuk konservasi alam di Megamendung yang menjadi bagian dari pendekatan ekologis Arista Montana.
Pada akhirnya, kekuatan model ini terletak pada kemampuan menjaga yang cukup demi masa depan. Dari sanalah ketahanan pangan lokal tidak hanya menjadi soal produksi, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam mengelola hasil panen secara berkelanjutan.
